Langkah-langkah Cara Membuat Tepung Tapioka

Seperti kita ketahui bahwa perusahaan kerupuk, menggunakan tepung tapioka sebagai bahan bakunya. Demikian juga pembuatan bakso serta makanan gorengan yang lainnya, seperti rempeyek.

Melihat kebutuhan akan tepung tapioka cukup banyak, pemasaran tidak mengalami kesulitan. Apalagi kebutuhan masyarakat: akan tepung tapioka, relatif tetap. Pemasaran dapat dilakukan di pasar atau warung yang terdapat di sekitar lingkungan. Pemasaran tepung tapioka tidak mengalami kesulitan karena biasanya pedagang atau pengguna tepung tapioka datang sendiri ke pabrik pengolahan tepung tapioka.

A. Pemilihan Ketela Pohon


Pilihlah ketela pohon yang berukuran besar dan tua serta banyak mengandung zat pati. Penentuan kandungan zat pati dalam singkong dapat diketahui dengan analisis di laboratorium atau dengan cara mencicipinya. Untuk mengetahui kandungan pati dengan cara yang sederhana, yaitu dengan cara mengunyah sepotong kecil ketela pohon. Apabila rasanya pahit atau agak pahit, biasanya mengandung kadar pati yang tinggi. Namun, hati-hati jangan sampai menggunakan singkong beracun. Hal itu dapat membahayakan kesehatan. Singkong beracun ditandai dengan rasa yang sangat pahit, di antaranya singkong karet merupakan salah satu jenis singkong yang sangat beracun. Sepotong ketela dicicipi jika rasanya agak pahit tentu kandungan patinya cukup tinggi.

Penentuan kadar pati secara sederhana
Penentuan kadar pati secara sederhana

Pilihlah singkong yang agak besar agar mudah dalam proses selanjutnya. kelompokkan ketela pohon berdasarkan besar atau ukurannya. Pengelompokan itu untuk memudahkan dalam pengupasan, terutama pengupasan dengan memakai peralatan mesin.

B. Pengupasan


Kulit ketela pohon terdiri atas kulit luar yang tipis berwarna cokelat muda atau cokelat kehitam-hitaman. Kulit luar ini mudah terkelupas. Pada kulit luar ini biasanya banyak terdapat kotoran tanah dan debu. Pada bagian bawah dari kulit luar terdapat kulit dalam yang tebal. Pada bagian bawah dari kulit dalam ini terdapat bagian-bagian yang lain yang dapat mempermudah pengupasan kulit.

Kulit ketela pohon perlu dihilangkan karena kandungan patinya relatif sedikit. Kulit itu mengandung zat racun yang dinamakan racun asam biru. Pada bagian daging racun asam biru relatif lebih sedikit. Oleh karena itu, kulit singkong atau ketela pohon harus dikupas dan dibuang. Kulit dari ketela pohon ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak karena tidak membahayakan. Pengupasan kulit luar menggunakan pisau yang tajam, sekaligus menghilangkan bagian yang sudah mulai rusak, busuk, atau bagian yang berkayu.

C. Pencucian


Ketela pohon yang sudah dikupas biasanya banyak mengandung kotoran berupa tanah atau kotoran lain. Kadang-kadang terdapat lendir dipermukaannya. Apabila ketela pohon ini tidak cepat dicuci, akan terjadi perubahan warna. Hal itu dapat menurunkan kualitas atau mutu tapioka yang dihasilkan. Akibat dari perubahan warna Jaga pohon yang telah dikupas, tapioka yang dihasilkan juga berwarna agak kehitaman.

Untuk menghindari kotoran serta terjadinya perubahan warna, setelah dikupas ketela pohon harus segera dicuci dengan menggunakan air bersih. Pencucian dapat dilakukan pada bak perendaman atau pun dengan menggunakan air mengalir. Pencucian dilakukan hingga ketela tersebut menjadi benar-benar bersih dengan ditandai ketela pohon tersebut kesat dan tidak licin.

D. Pemarutan


Tujuan pemarutan untuk menghancurkan ketela pohon menjadi bubur ketela pohon. Dengan demikian, pati yang ada di dalamnya akan bebas dan mudah dipisahkan dari ampasnya.

Selanjutnya, pemarutan ketela pohon yang telah dikupas dan dicuci bersih. Selama menunggu pemarutan, ketela pohon harus selalu direndam agar tidak terjadi perubahan warna. Pemarutan dilakukan dengan menggunakan parut tangan. Ada parut yang dibuat dari kaleng yang dilubangi dan ada pula yang dibuat dari kayu yang dipasangi kawat-kawat baja yang tajam. Pemarutan menggunakan tangan dapat menghasilkan parutan yang baik, tetapi terlalu lama.

Pemarutan dapat juga dilakukan dengan menggunakan parut berputar. Parut jenis ini digerakkan dengan tenaga kaki atau listrik (diesel). Parut yang menggunakan tenaga diesel banyak digunakan oleh orang yang menyelenggarakan jasa pemarutan di kios-kios pasar. Pemarutan dengan menggunakan tenaga kaki ini akan lebih efektif dan efisien dan hasilnya Cukup banyak. Hasilnya akan lebih banyak lagi jika menggunakan tenaga listrik atau diesel pemarutan dilakukan di atas sebuah wadah agar bubur ketela pohon tidak berceceran.

Pemarutan dengan tangan
Pemarutan dengan tangan

Pemarutan diusahakan sampai betul-betul halus. Semakin halus bubur yang dihasilkan, akan semakin banyak endapan pati yang didapatkan.

E. Pengambilan Sari atau Ekstraksi


Pengambilan sari bertujuan untuk mengeluarkan kandungan pati yang ada dalam ketela pohon. Proses pengambilan pati dikenal juga dengan nama proses ekstraksi. Proses ini dilakukan setelah pemarutan selesai. Parutan tersebut dimasukkan dalam wadah yang berupa bak kayu atau wadah lain. Kemudian, ditambahkan air yang bersih. Selanjutnya, diremas-remas dengan tangan, seperti kita memeras santan. Kemudian, tuangkan di atas kain saring.

Proses pengambilan sari atau ekstraksi
Proses pengambilan sari atau ekstraksi

Hasil dari proses penyaringan tersebut ditampung pada bak pengendapan. Ampas yang dihasilkan kemudian dimasukkan kembali pada bak ekstraksi dan ditambah air serta diperas dan diremas-remas. Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga air perasan kelihatan jernih. Ampas yang diperoleh jangan dibuang karena masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak.

F. Pengendapan


Larutan pati yang keluar pada proses pengambilan sari kemudian diendapkan. Tujuan dari pengendapan untuk memisahkan butiranbutiran pati dari bahan-bahan lain yang terdapat bersama-sama pati. Bahan-bahan tersebut, antara lain air, lemak, dan protein. Pemisahan pati dengan bahan-bahan yang lain dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Pati mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada bahan-bahan lain. Oleh sebab itu, pati mengendap dan langsung terpisah dari bahan yang lainnya.

Proses pengendapan dilakukan dengan cara memasukkan larutan air perasan ke dalam bak pengendapan dan diaduk. Maksud pengadukan ialah agar pengendapan tepung dapat merata. Setelah diaduk, lalu didiamkan selama sehari semalam untuk mengendapkan tepungnya. Air yang terdapat pada bagian atas dibuang karena mengandung larutan berbagai kotoran dan bahanbahan lain yang tidak diinginkan dalam pembuatan tepung tapioka.

Pengeluaran air dari bak pengendapan biasanya dari lubang pengeluaran air. Apabila pengendapan dilakukan dalam ember, pembuangan airnya dilakukan dengan cara menciduk menggunakan gayung.

Proses pengendapan yang dilakukan tersebut memang sudah dapat memisahkan pati dengan bahan-bahan yang lain. Akan tetapi, masih kurang sempurna (masih terdapat kotoran dan bahan-bahan yang lain).

Untuk menghasilkan tepung yang bersih dan baik, perlu dilakukan pencucian kembali. Carannya, dengan mengisi bak pengendapan itu dengan air bersih, diaduk-aduk, kemudian diendapkan kembali. Air yang terdapat pada bagian atas dibuang kembali. Proses pencucian ini dilakukan hingga tepung yang dihasilkan benar-benar bersih dan baik (2 - 3 kali).

Wadah pengendapan
Wadah pengendapan

Endapan yang sudah bersih dikeringkan, tetapi endapan teung yang masih basah dan berupa gumpalan-gumpalan ditampung di atas tampah atau bilik bambu (kepang: Jawa). Selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan Sinar matahari atau alat pengering buatan.

Pengeringan dilakukan hingga benar-benar kering. Hal itu untuk menghindari kerusakan tepung tapioka, terutama yang disebabkan oleh jamur. Kecepatan proses pengeringan sangat bergantung pada panas yang digunakan (sinar matahari), ketebalan hamparan bahan, udara, dan proses pembalikan. Oleh karena itu, Untuk mempercepat pengeringan dilakukan peremasan atau pembalikan terhadap gumpalan tepung pati.

Proses pengeringan dikatakan sudah selesai apabila tepung tapioka sudah benar-benar kering. Ciri-ciri tepung tapioka kering apabila dilakukan pengepalan dengan tangan tidak akan berbentuk gumpalan.

Apabila cuaca kurang baik, tepung tidak akan lekas kering dan warnanya tidak menarik serta berbau agak asam. Pemanasan dapat menggunakan pemanasan buatan yang terbuat dari seng yang dilengkapi dengan sumber panas, seperti kompor dengan cara mengatur besar kecilnya api. Akan tetapi, pemanasan tidak boleh dilakukan dengan menggunakan panas api secara langsung. Apalagi pemanasan yang tidak dilakukan pengukuran suhunya. Hal itu dapat menghasilkan tapioka dengan warna yang tidak menarik. Akibatnya, akan terjadi kerusakan terhadap kandungan yang terdapat di dalamnya.

G. Pengemasan


Tepung tapioka yang sudah kering dapat dipasarkan, baik secara langsung maupun dengan cara dikemas terlebih dahulu. Pengemasan adalah salah satu tahap akhir yang dapat menentukan tingkat harga dan daya beli masyarakat. Di samping merupakan upaya proses mempertahankan daya simpan tepung tapioka.

Tepung tapioka dalam kemasan
Tepung tapioka dalam kemasan

Tepung tapioka biasanya dimasukkan di dalam sebuah karung plastik, seperti yang dilakukan di pabrik-pabrik besar sebagai pengemasannya. Akan tetapi, bagi industri kecil tapioka dikemas dengan menggunakan kantong plastik yang dicetak dan disablon atau plastik polos yang mempunyai ketebalan tertentu. Keterangan yang dicetak di atas plastik tersebut, antara lain mengenai merek, kualitas, berat, dan keterangan lain tentang produk tersebut. Dengan pengemasan cara ini akan mempermudah penjualannya dan meningkatkan nilai jualnya.

Langkah-langkah Cara Membuat Susu Kedelai

Untuk meningkatkan atau menambah penghasilan keluarga, susu kedelai yang dibuat dapat dijual di pasar, di kios-kios, dititipkan di warung dan toko, dijajakan di kampung-kampung atau diantar ke rumahrumah. Hal yang perlu diperhatikan dalam menjual susu kedelai adalah susu kedelai tersebut harus mempunyai penampilan yang menarik serta dapat menimbulkan selera.

Untuk memperbaiki penampilan susu kedelai dapat ditambahkan pewarna atau dengan menempatkan dalam wadah yang menarik, baik bentuk, maupun labelnya. Pewadahan susu kedelai dapat dilakukan pada kantong plastik, gelas plastik, gelas kaca, atau dalam botol. Untuk menimbulkan selera, rasa susu kedelai harus enak. Oleh karena itu, ditambahkan esens, dan gula.

Dalam menjual susu kedelai harus dilihat situasi, tempat kita akan menjualnya. Jika kita menjual untuk diantarkan ke rumah-rumah, sebaiknya yang kita jual adalah susu kedelai hangat. Bila kita menjual di kampung-kampung pada keadaan panas terik, sebaiknya kita jual dalam bentuk susu dingin atau bentuk es susu kedelai.

PROSES PEMBUATAN SUSU KEDELAI


Setelah alat dan bahan yang akan dipergunakan disiapkan, siapkan pembuatan susu kedelai dapat dilakukan sebagai berikut.

1. Pemilihan Kedelai

Agar susu kedelai yang akan kita buat itu benar-benar memuaskan dan bermutu baik, kedelai yang akan diolah pun harus bemutu baik. Kedelai yang bermutu baik ditandai dengan biji yang bersih, berukuran seragam, biji yang utuh, tidak banyak biji yang berlubang, tidak banyak biji yang busuk, tidak banyak biji yang keriput, tidak terdapat banyak kotoran seperti kerikil, ranting, kotoran tikus, dan serangga. Untuk memilih atau memisahkan kedelai yang baik, dapat digunakan nyiru dan ayakan. |

2. Perendaman Kedelai

Setelah pemilihan kedelai selesai, kemudian direndam dalam panci atau baskom. Untuk jumlah yang lebih besar, kedelai dapat direndam dalam bak air. Perendaman dilakukan selama 4-6 jam agar kedelai cukup empuk untuk digiling. Perendaman sebaiknya dilakukan pada malam hari sehingga keesokan harinya dapat langsung disiapkan dan langsung dipasarkan. Apabila dikehendaki waktu perendaman.yang lebih singkat, dapat dilakukan perendaman dengan menggunakan air hangat.

3. Pencucian dan Pengupasan

Setelah kedelai direndam, sisa air perendaman dibuang dan kedelai kita cuci : sambil kita melakukan: pengupsan kulit kedelai. Perilaku ini bertujuan agar susu kedelai yang akan kita dapatkan tidak berwarna kecoklatan.

4. Penggilingan Kedelai

Kedelai yang telah dikupas dan dicuci bersih kemudian dibawa ke tempat penggilingan. Dengan menggunakan gayung, kedelai hasil perendaman dan pengupasan dimasukkan ke alat penggilingan sedikit demi sedikit agar hasil gilingan yang diperoleh benar-benar halus. Sebelum melakukan penggilingan, jika kita menggunakan alat penggiling mesin, harus dipastikan bahwa jarak antara dua lempeng batu sudah sampai titik batas, yaitu dengan melihat hasil gilingan awal. 

Apabila hasil gilingan masih kasar, jarak lempengan batu perlu dirapatkan hingga diperoleh hasil yang bagus. Dalam proses penggilingan, perlu ditambahkan air . sedikit demi sedikit agar kedelai dapat hancur serta mengalir ke lubang pengeluaran. Jumlah air yang ditambahkan sebanyak tiga kali berat kedelai awal yang akan diproses.

5. Pemanasan Pertama

Pemanasan bubur kedelai bertujuan mengekstrak atau mengeluarkan sari-sari kedelai yang terdapat dalam sel-sel kedelai. Dengan adanya panas, sel-sel kedelai akan rusak sehingga sari/susu kedelai dapat keluar. Agar sari kedelai dapat keluar banyak, perlu ditambahkan air pada saat pemanasan. Jumlah air yang ditambahkan, yaitu sebanyak empat kali berat kedelai awal. Dalam pemanasan ini, harus dilakukan pengadukan secara terus-menerus yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kegosongan. 

Pemanasan bubur kadelai
Pemanasan bubur kadelai

Terjadinya kegosongan pada saat pemasakan akan mempengaruhi aroma susu kedelai yang dihasilkan, yakni berbau gosong/ hangus pada susu. Hal ini tidak dikehendaki oleh konsumen. Waktu pemasakan berkisar antara 15-20 menit setelah bubur kedelai mendidih. Jika waktu yang digunakan terlalu singkat, susu kedelai tidak terekstrak secara sempurna. Jika Susu kedelai sudah keluar: semua, waktu pemasakan yang terlalu lama akan memboroskan pemakaian bahan bakar.

6. Penyaringan 

Bubur kedelai yang masih mendidih itu Segera diturunkan dan disaring. Untuk menyaring digunakan kain belacu atau mori kasar yang diletakkan di atas saringan bambu.Saringan bambu yang digunakan harus kuat agar mampu menahan bubur kedelai yang disaring. Apabila bubur kedelai telah diproses dalam jumlah yang besar, dapat digunakan penahan saringan dari bambu yang biasa digunakan untuk membuat tahu di pabrik pabrik tahu. 

Penyaringan
Penyaringan

Setelah bubur kedelai disaring, perlu dilakukan pemerasan, yaitu bertujuan agar susu kedelai banyak yang keluar. Pemerasan ini harus dilakukan sekuat-kuatnya sehingga susu kedelai benar-benar terekstrak. Untuk keperluan itu, kedelai ditekan dengan cara diinjak atau dengan menggunakan alat pengepres. Ampas hasil pemerasan ini masih . mengandung susu kedelai. Oleh karena itu, perlu ditambahkan lagi air. panas sebanyak dua kali berat kedelai awal, kemudian dilakukan pengepresan/ pemerasan lagi.

7. Pemanasan Kedua

Pemanasan kedua ini sering disebut dengan -: perlakuan pasteurisasi, yang bertujuan untuk mematikan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit karena adanya penambahan bahanbahan yang lain, seperti gula, garam, dan pewarna yang kemungkinan mengandung bakteri. Pemanasan ini juga bertujuan melarutkan bahan lain yang ditambahkan, Pada pemanasan kedua ini ditambahkan gula sebanyak 10% sampai 14% dari jumlah susu kedelai yang dihasilkan, untuk memberikan rasa manis susu kedelai serta untuk menambah kalori atau karbohidrat atau sumber tenaga. 

Selain itu, ditambahkan garam sebagai pemantap rasa serta untuk menambah mineral. Selain itu, perlu ditambahkkan esens atau pewangi untuk memperbaiki aroma. Esens yang digunakan dapat esens stroberi, cokelat, moka, atau kopi, dan rasa lain yang dikehendaki. Jika esens yang ditambahkan sudah mengandung zat warna, tidak perlu lagi ditambahkan pewarna. Akan tetapi, jika susu kedelai tidak mengandung pewarna dapat ditambahkan pewarna untuk menarik minat konsumen. Pemanasan susu kedelai pada pemanasan kedua ini tidak mengalami kerusakan. Waktu yang digunakan untuk pemanasan kedua adalah 15 menit.

8. Pewadahan/ Pembotolan

Susu kedelai yang telah dipanaskan segera kita masukkan ke dalam wadah plastik atau botol dalam kondisi masih panas. Hal ini bertujuan agar susu tidak terlalu lama bersinggungan dengan udara luar yang banyak mengandung mikroorganisme atau bakteri pembusuk. Apabila hal ini terjadi, susu tidak akan tahan lama atau cepat mengalami kerusakan. 

Pewadahan dan pembotolan
Pewadahan dan pembotolan

Jika dilakukan pewadahan dalam botol atau pembotolan, botol yang digunakan seharusnya bersih dan disucihamakan dengan cara direbus selama tiga puluh menit setelah air mendidih.

Penanganan Air Limbah Tahu

Air limbah buangan tahu adalah air yang diperoleh dari proses pembuatan tahu. Apabila dibiarkan tergenang dalam waktu cukup lama, air limbah dapat mengotori (mencemari) lingkungan. Air itu akan mengubah lingkungan menjadi tidak sehat. Jika air itu dibiarkan mengalir pada kolam-kolam ikan atau ke lahan-lahan persawahan, kehidupan ikan ataupun tanaman akan terganggu, bahkan bisa mati.

Air limbah tahu perlu ditangani secara baik agar tidak mencemari lingkungan. Berikut ini cara penanganan sederhana yang dapat dilakukan.

a. Menampung dan menyaring air limbah tahu ke dalam sebuah bak. Kemudian, bak ditutup agar tidak menimbulkan bau.

Bak pengolahan awal
Bak pengolahan awal

b. Mengalirkan air limbah tahu yang sudah disaring ke bak pengumpul. Pada bak ini, air limbah yang berasal dari beberapa kali proses pembuatan tahu akan becampur secara merata dan seragam.

Bak penampungan
Bak penampungan

c. Cara terakhir ialah mengalirkan air limbah tahu, yang berasal dari bak penampungan, ke bak kedap udara dan selanjutnya diendapkan selama 20 hari. Di dalam bak kedap udara, benda-benda (polutan) berat yang membahayakan lingkungan dipecah oleh mikroba secara alami sehingga menjadi berbahaya.

Bak kedap udarah atau bak pemeraman
Bak kedap udarah atau bak pemeraman

Dengan pengolahan air limbah tahu secara sederhana ini upaya pencegahan merusak lingkungan telah dilakukan.

Pengawetan dan Cara Mencegah Kerusakan Tahu

Untuk mencegah agar tahu tidak cepat rusak, hal yang dilakukan adalah pengawetan. Proses pengawetan dilakukan dengan merendam tahu ke dalam air bersih atau dengan mengukus/ merebus tahu.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengar merebus tahu dengan air kunyit dan sekaligus tahu berwarna kuning serta menjadi lebih menanik.
 
Pemotongan tahu
Pemotongan tahu

Jika tahu akan diawetkan dengan bahan pengawet kimia, bahan pengawet itu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. dapat mengawetkan bahan makanan (tahu), 
  2. tidak berbahaya apabila dimakan,
  3. tidak mengubah rasa dan berbau:
  4. menaikkan nilai ekonomi.
Tahu banyak mengandung air dan protein yang terkandung di dalam tahu adalah sebagai berikut:
  1. air 84 - 90%
  2. protein . 5-8%
  3. lemak : 3-5%
  4. karbohidrat : 2-4%
Makanan yang mengandung protei dan air yang Cukup tinggi mempunyai sifat mudah rusak. Demikian pula halnya yang terjadi pada tahu.

Apabila dibiarkan dalam keadaan terbuka selama satu sampai dua hari, tahu itu akan menjadi rusak. Kerusakan tahu ditandai dengan terbentuknya lendir pada permukaan tahu dan terjadinya perubahan wama, rasa, dan bau. Rasa tahu akan berubah menjadi pahit dan bau khas tahu berubah menjadi busuk. Wama tahu yang biasanya putih, berubah menjadi kuning kemerahan.

Langkah-langkah Cara Pembuatan Tahu

Secara umum proses pembuatan tahu di mana pun sama. Apabila ada perbedaan itu hanya terdapat pada jenis bahan penggumpal protein yang digunakan atau urutan kerja pada pembuatan tahu:

Bahan dan Peralatan

Produk tahu dalam proses membuat lamanya membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut.
  1. Kedele tua dalam kondisi baru dan baik. 
  2. Asam cuka 5%
  3. Air bersih serta jernih.
Jenis peralatan yang diperlukan untuk membuat tahu terdiri atas:
  1. ember/baskom/panci/bak perendaman dari semen
  2. kompor
  3. pengaduk
  4. takaran air
  5. kain saring:
  6. penggiling kedele/blenderfumpang dan alu atau alat lain yang dapat untuk menghancurkan kedele,
  7. alat pencetak tahu
  8. alat pengukuran suhu.

Proses Kerja Pembuatan Tahu

Adapun proses kerja pembuatan tahu adalah sebagai berikut:

1. Pemilihan Bahan 

Untuk mendapatkan tahu yang baik, perlu dipilih kedele yang tua serta masih baru dan baik. Kondisi kedele seperti ini, bila diolah dengan cara yang benar, akan menghasilkan tahu yang memiliki rasa dan aroma. yang enak serta bentuk yang baik.

Cara memilih kadele
Cara memilih kadele

Pemilihan kedele dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan menggunakan indera perasa kita. Kedele yang tua biasanya mempunyai permukaan kulit yang halus atau tidak keriput. Kedele yang masih baru dan baik kulitnya berwarna cerah mengkilat. Sebaliknya, kedele yang sudah lama disimpan warna kulitnya cenderung pudar dan suram. Selain itu, kedele yang sudah Iama tersimpan, berbau agak apek.

2. Pemilahan (Sortasi) Kedele

Sortasi atau pemilahan perlu dilakukan untuk mendapatkan kedele yang bebas dari kotoran, seperti kerikil, tanah, kedele cacat/rusak/busuk, dan benda asing lain yang mengotori kedele.

Sortasi dapat dilakukan dengan mempergunakan tangan, yaitu dengan cara menghamparkan kedele yang dipilah di atas tampah atau nyiru. Selanjutnya, kedele yang baik dipisahkan dari kedele yang rusak dan benda-benda lain yang mengotorinya. Mesin sortasi dapat digunakan jika memilah kedele dalam jumlah banyak.

3. Pencucian dan perendaman

Pencucian dilakukan untuk membersihkan kedele dari kotoran-kotoran yang menempel. Air bersih yang digunakan untuk mencuci adalah sumber air dari sumur atau ledeng.

Pencucian dikerjakan dengan tangan. Kedele digosok-gosok sampai bersih. Pencucian diakhiri apabila air bekas cuciannya tampak jemih.

Perendaman dilakukan apabila kedele telah bersih. Maksud dari perendaman ini adalah agar kedele menjadi lunak dan gampang digiling.

Waktu yang digunakan untuk merendam kedele adalah selama 6-8 jam. Selama perendaman, semua kedele harus terendam air. Air perendaman perlu diganti setiap saat dengan air bersih sambil kedele dicuci agar tidak timbul bau yang tidak dikehendaki.

4. Penggilingan atau Penghancuran Kedele

Setelah direndam, selanjutnya kedele dibilas dengan air bersih dan disaring sampai semua air menetes habis.

Kedele yang telah lunak, hasil dari perendaman, digiling atau dihancurkan dengan menggunakan alat penggiling. Alat yang dapat digunakan adalah penggiling batu, mesin penggiling, atau alat penghancur (blender).

Penggilingan/penghancuran kedele dimaksudkan agar protein yang terkandung dalam kedele dapat dengan mudah diambil dan dipisahkan dari bahan-bahan yang lain.

Selama penggilingan/penghancuran berlangsung, perlu diberikan air hangat dan dialirkan ke dalam bahan yang sedang digiling. Pemberian air ini bertujuan agar sari/susu kedele dapat terdorong keluar Di samping itu, pemberian ar juga memudahkan proses penggilingan. 

Semakin banyak susu, karena hasil tahu yang diperoleh berjumlah banyak Hasil penggilingan atau pen hancuran berupa bubur kedele yang siap diolah lebih lanjut.

5. Pemasakan

Bubur kedele yang diperoleh dari hasil penggilingan dicampur dengan air sebanyak delapan kali berat kedele dan dimasak sampai mendidih. Waktu pemasakan adalah 5 menit setelah bubur mendidih. Pemasakan bubur kedele dapat digunakan api kompor, kayu, atau sekam padi kering.

6. Penyaringan 

Penyaringan bertujuan untuk memisahkan SUSU kedele dari ampas kedele. Bubur kedele disaring dalam keadaan panas dengan menggunakan kain saring. 

Penyaringan bubur tahu
Penyaringan bubur tahu

Hasil penyaringan berupa susu kedele dan ampas kedele. Ampas kedele dikumpulkan dan dapat dimanfaatkan menjadi bahan makanan lain, seperti tempe atau dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. 

7. Penggumpalan

Proses penggumpalan dilakukan terhadap protein kedele yang terkandung di dalam susu kedele dengan menggunakan asam cuka 5%. Susu kedele dalam keadaan hangat, (susu antara 70 s.d 80 derajat celcius), secara pelanpelan diaduk sambil ditambahkan asam cuka 549. 

Penggumpalan protein tahu
Penggumpalan protein tahu

Penambahan asam cuka dihentikan, apabila semua protein telah menggumpal. Hal ini ditandai dengan terbentuknya gumpalan putih dan cairan disekitar gumpalan itu terlihat bening atau jernih. Setelah itu, dibiarkan sebentar agar gumpalan tahu itu mengendap. Selanjutnya, cairan di atasnya sebagian dibuang dan sebagian lagi disimpan untuk dijadikan manyon.

8. Pecetakan

Pencetakan tahu dilakuakn dengan alat pencetak tahu (lihat gambar 10). Mula-mula cetakan diberi alas kain saring. Kemudian gumpalan tahu dituangkan ke dalam Cetakan hingga cetakan terisi penuh. Setelah penuh, kain yang tersisa ditutupkan ke Seluruh gumpalan tahu dan dipres.

Pencetakan tahu
Pencetakan tahu

Pempresan dilakukan dengan memberikan beban kan atahu yang dicetak. Besar kecilnya gat berpengaruh terhadap keras atau lunaknya tahu.

9. Pengemasan

Sebelum dikemas, tahu dipotong-potong berbentuk kotak-kotak atau seperti bentuk kubus. Dari satu kilogram kedele kering akan diperoleh 30 potong tahu dengan ukuran 2 X 5 X 5 cm. 

Pengirisan dan pengemasan tahu
Pengirisan dan pengemasan tahu

Pengemasan tahu dapat menggunakan kantong plastik. Setiap kantong berisi 10 - 15 potong tahu. Di dalam kemasan perlu ditambahkan air karena tahu bersifat mudah rusak.

Langkah-langkah Pembuatan Asinan Mentimun

Bila alat dan bahan yang akan digunakan sudah disiapkan, kita sudah bisa.membuat asinan mentimun dengan langkah kerja sebagai berikut. 

1. Cucilah mentimun yang sudah disiapkan sampai bersih, tidak ada kotoran lagi yang menempel, dan gunakanlah air yang bersih.

2. Bila dianggap ukuran mentimun terlalu besar potonglah menjadi 2 atau 3 bagian.

Orang memotong mentimun
Orang memotong mentimun

3. Mentimun yang telah dicuci bersih, tiriskanlah di atas ayakan dengan posisi berdiri. Bila sudah kering, susunlah ke dalam stoples dengan rapi. Penirisan ini dimaksudkan untuk menghilangkan air yang menempel pada permukaan mentimun.

4. Siapkanlah air bersih di dalam panci sebanyak 1 liter untuk mentimun sebanyak 1 kg.

5, Masukanlah 6 sendok makan garam dapur dan 3 sendok makan gula pasir ke dalam air bersih di dalam panci tadi.

Garam dapur dan gula pasir dicampur
Garam dapur dan gula pasir dicampur

6. Aduklah perlahan-lahan air dalam panci tadi menggunakan sendok, sampai garam dan gula pasirnya betul-betul larut. Berarti sudah tidak ada endapan lagi di dasar panci.

4. Bila di dalam air tampak banyak kotoran, saringlah air dalam panci tadi menggunakan saringan halus atau kain blacu yang bersih. Masukkan kembali ke dalam panci.

8. Masaklah air campuran garam dan gula pasir yang bersih tadi di atas kompor atau tungku yang sudah dinyalakan apinya sampai mendidih selama 15 menit.

Air campuran garam dan gula pasir mendidih
Air campuran garam dan gula pasir mendidih

9. Bila air sudah mendidih, angkatlah panci tersebut dari atas kompor atau tungku.

10. Secara hati-hati, tuanglah air yang masih panas tadi ke dalam stoples yang Sudah berisi mentimun.

11. Perhatikanlah batas air perendaman sehingga semua mentimun di dalam stoples benarbenar terendam.

Perendaman mentimun
Perendaman mentimun

12. Dalam keadaan masih panas, tutuplah stoples dengan rapat, bila perlu bagian luar penutup dilapisi selotip (yang biasa digunakan untuk membungkus kabel).

13. Simpanlah stoples tadi di tempat yang kering dan aman. Lalu diamkanlah selama 2 sampai 3 hari.

Penyimpanan stoples
Penyimpanan stoples

14. Bila sudah 2 atau 3 hari, cicipilah bagian daging buah yang akan terasa asin bercampur manis dan sedikit rasa asam. Bila sudah demikian, berarti pembuatan asinan mentimun dikatakan berhasil. Bila asinan mentimun tidak akan langsung dimakan, usahakan tutup stoples tetap rapat.

15. Bila pembuatan asinan mentimun gagal, tandatandanya adalah mentimun tampak tidak segar, berasa asam, berbau basi, tampak berlendir, dan di atas permukaan air campuran atau daging buah ditumbuhi jamur. Hal ini berarti wadah yang digunakan tidak bersih atau terkena kotoran selama proses pembuatan.

Alat-alat Yang Digunakan Untuk Membuat Asinan Mentimun

Dalam pembuatan asinan mentimun digunakan alat-alat yang mudah diperoleh dilingkungan kita. Alat-alat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pisau

Pisau digunakan untuk memotong atau mengiris mentimun menjadi potongan-potongan kecil. Pisau yang digunakan harus tajam, tidak mudah berkarat (stainless steel) dan bersih.

2. Panci

Panci digunakan untuk memasak campuran larutan garam dan gula. 

Panci
Panci

Ukuran besarnya panci dapat disesuaikan dengan banyaknya mentimun yang akan diolah menjadi asinan.

3. Stoples

Berbagai macam stoples bisa digunakan, baik yang terbuat dari gelas/kaca maupun dari plastik. Yang penting ada penutupnya, kuat, dan bersih. Stoples digunakan untuk menyimpan mentimun yang akan dibuat asinan. 

4. Kompor atau Tungku 

Di daerah yang belum menggunakan kompor bisa memakai tungku atau anglo (di daerah Yogyakarta dan sekitarnya). 

Kompor dan tungku
Kompor dan tungku

Kompor atau tungku digunakan untuk memanaskan atau memasak campuran air gula dan garam yang diwadahi di dalam panci.

5. Saringan

Saringan yang digunakan bisa terbuat dari kawat halus, kain kasa, atau blacu. Saringan digunakan untuk memisahkan . kotoran yang terdapat dalam rebusan air garam dan gula pasir. 

6. Ember

Berbagai jenis ember dengan bahan dan ukuran yang berbeda dapat kita gunakan. Ember dapat terbuat dari bahan plastik, stainless steel (tahan karat), atau email.

Macam-macam ember
Macam-macam ember

Ember digunakan sebagai tempat air bersih atau tempat menampung mentimun yang akan diolah. Alat ini memudahkan kita dalam memindahkan mentimun yang ditampung. Selain itu, ember yang berpenutup bisa juga digunakan sebagai tempat proses pengasinan mentimun dalam volume yang besar.

7. Ayakan

Ayakan umumnya terbuat dari bambu yang dianyam, dan ukurannya bermacam-macam. Alat ini digunakan sebagai tempat meniriskan mentimun yang telah dicuci bersih agar tidak ada lagi air yang menempel pada mentimun tersebut. 

8. Timbangan 

Banyak sekali macam timbangan yang bisa digunakan, dari mulai yang sederhana sampai yang lengkap. 

Timbangan
Timbangan

Timbangan digunakan untuk menimbang berat mentimun yang diperlukan untuk dibuat asinan.

9. Sendok

Alat ini sudah biasa dikenal orang pada saat makan atau membuat kopi. Sendok digunakan untuk menakar atau mengukur banyaknya garam. dapur atau gula pasir yang dibutuhkan. Sebaiknya, digunakan sendok yang tahan karat.

Manfaat Pembuatan Asinan Mentimun

Ada beberapa manfaat yang penting dari pembuatan asinan mentimun atau sayuran yang lain.

1. Mentimun tetap segar dan tidak rusak, walaupun disimpan lama, sehingga kapan pun kita memerlukan mentimun untuk dimakan atau dimasak selalu tersedia.

Mentimun segar dan rusak
Mentimun segar dan rusak

 
2. Sisa panenan mentimun yang berlebihan tidak akan terbuang percuma (bisa dibuat asinan, asalkan masih memenuhi syarat).

Hasil panen mentimun melimpah
Hasil panen mentimun melimpah

3, Setiap hari selalu dapat menyediakan menu makanan yang sehat dan bergizi.

Makanan sehat melimpah
Makanan sehat melimpah

Mentimun yang dibuat asinan, walaupun disimpan beberapa lama, nilai gizinya tetap sama dengan mentimun segar.

4. Dapat meningkatkan penghasilan (uang) bagi petani dan masyarakat lain yang ingin berusaha membuat asinan mentimun.

Asinan mentimun yang telah dibuat, bukan saja untuk dimakan sendiri tetapi dapat dijual baik di warung, di pasar maupun di toko-toko makanan. Bila dilakukan secara terus-menerus usaha asinan mentimun tersebut akan menghasilkan pendapatan yang lumayan.